MTsN 2 Pasuruan

Jl. Urip Sumoharjo Telp (0343) 631432

Madrasah Hebat Bermartabat

MUHARRAMAN, TRADISI ATAU AJARAN?

Kamis, 26 April 2018 ~ Oleh Administrator ~ Dilihat 128 Kali

Penamaan Bulan

      Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Islam. Kata Muharram secara bahasa, berarti diharamkan.  Dinamakan bulan Muharram karena peperangan (jihad) diharamkan pada bulan tersebut. Kecuali apabila umat Islam diserang pada bulan haram ini, maka diperbolehkan membalas serangan di bulan itu juga. Pada bulan ini Allah melarang umatnya melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT. seperti  berperang, sebagaimana yang telah dilakukan oleh orang-orang Quraisy sebelum datangnya agama Islam.

 

Beberapa Keutamaan Bulan Muharram

a.    Bulan Muharram merupakan salah satu dari bulan-bulan haram yang empat.

      Allah Ta’ala berfirman:

 ¨bÎ) no£‰Ïã ͑qåk’9$# y‰ZÏã «!$# $oYøO$# uŽ|³tã #\öky­ ’Îû É=»tFÅ2 «!$# tPöqtƒ t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# šßö‘F{$#ur !$pk÷]ÏB îpyèt/ö‘r& ×Pããm 4 šÏ9ºsŒ ßûïÏe$!$# ãNÍhŠs)ø9$# 4 Ÿxsù (#qßJÎ=ôàs? £`ÍkŽÏù öNà6|¡àÿRr& 4 (#qè=ÏG»s%ur šúüÅ2Ύô³ßJø9$# Zp©ù!%x. $yJŸ2 öNä3tRqè=ÏG»s)ムZp©ù!$Ÿ2 4 (#þqßJn=÷æ$#ur ¨br& ©!$# yìtB tûüÉ)­GãKø9$# .  

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Q.S. at Taubah :36).

      Ayat ini menerangkan bahwa setelah penciptaan langit dan bumi Allah menciptakan bulan yang berjumlah 12 bulan dimana bulan tersebut merupakan bulan tahun Hijriah. Dalam bulan-bulan tersebut terdapat 4 bulan yang paling istimewa diantara bulan bulan lainnya selain bulan Ramadhan yaitu Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab.

     Para ulama sepakat bahwa keempat bulan haram tersebut memiliki keutamaan dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain selain Ramadhan, namun  mereka berbeda pendapat, bulan apakah yang paling afdhal diantara keempat bulan haram yang ada? Imam Hasan Al Bashri dan beberapa ulama lainnya berkata, “Sesungguhnya Allah telah memulai  waktu yang setahun dengan bulan haram (Muharram) lalu menutupnya juga dengan bulan haram (Dzulhijjah). Seorang ahli tafsir dari kalangan tabi’in,Qatadah bin Di’amah Sadusi, menyatakan, “Amal sholeh lebih besar pahalanya jika dikerjakan di bulan-bulan haram sebagaimana kezhaliman juga  lebih besar dosanya  jika dikerjakan di bulan-bulan haram.

 

b.    Bulan Muharram disifatkan sebagai Bulan Allah

     Kedua belas bulan yang ada adalah makhluk ciptaan Allah, akan tetapi bulan Muharram meraih keistimewaan khusus karena hanya bulan inilah yang disebut sebagai “syahrullah” (Bulan Allah). Rasulullah SAW bersabda :

“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. [H.R. Muslim (11630) dari sahabat Abu Hurairah r.a.]

     Hadits tersebut mengindikasikan adanya keutamaan khusus yang dimiliki bulan Muharram karena disandarkan kepada lafzhul Jalalah (lafazh Allah). Para Ulama menerangkan bahwa ketika suatu makhluk  disandarkan pada lafzhul Jalalah maka hal tersebut mengindikasikan tasyrif (pemuliaan) terhadap makhluk tersebut, sebagaimana istilah baitullah (rumah Allah) bagi masjid, ka’bah dan lain sebagainya.

 

Amalan Yang Dianjurkan di Bulan Muharram

      Anjuran berpuasa di bulan Muharram ini lebih dikhususkan dan ditekankan hukumnya pada hari yang dikenal dengan istilah Yaumul ‘Asyura, yaitu pada tanggal 10  Muharram (‘asyura). Pada hari ‘Asyuro ini, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya untuk melaksanakan ibadah kepada Allah berupa ibadah puasa, yang kita kenal dengan puasa Asyura sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, beliau berkata Rasulullah SAW bersabda:“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram dan shalat yang paling utama setelah sholat fardhu adalah sholat malam”    [HR. Muslim(11630) ]

 

Hadits-Hadits Disyariatkannya Puasa ‘Asyura

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ  هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

Ibnu Abbas r.a. berkata : Ketika Rasulullah SAW. tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘ Asyura, maka Beliau bertanya : “Hari apa ini?. Mereka menjawab, “Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah SAW pun bersabda, “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian“. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa di tahun yang akan datang. [H.R. Bukhari (1865) dan Muslim(1910) ]

     Dalam Hadis lain dari Abu Musa r,a. berkata, “Hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai hari raya, maka Rasulullah SAW bersabda (kepada ummatnya), “Berpuasalah kalian (pada hari itu)” [HR. Bukhari (1866) dan Muslim(1912)]

     Kaum Quraisy pada masa Jahiliyyah juga berpuasa di hari ‘Asyura dan Rasulullah SAW juga berpuasa pada hari itu, ketika beliau telah tiba di Madinah maka beliau tetap mengerjakannya dan memerintahkan ummatnya untuk berpuasa. Setelah puasa Ramadhan telah diwajibkan beliau pun meninggalkan (kewajiban) puasa ‘Asyura, seraya bersabda, “Barangsiapa yang ingin berpuasa maka silahkan tetap berpuasa dan barangsiapa yang tidak ingin berpuasa maka tidak mengapa” [HR. Bukhari (1863) dan Muslim(1897)]

     Perhatian Rasulullah SAW dan para sahabat begitu besar terhadap puasa ‘Asyura. Menurut riwayat Ibnu Abas, dia berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW, berupaya keras berpuasa pada suatu hari melebihi yang lainnya kecuali pada hari ini, yaitu hari ‘Asyura dan bulan ini yaitu Ramadhan.” [H.R. Bukhari (1867) dan Muslim(1914)]

 

Keutamaan Puasa ‘Asyura

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  قَالَ صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Dari Abu Qatadah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Puasa hari ‘Asyuro aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa tahun lalu” [HR. Tirmidzi (753), Ibnu Majah (1738) dan Ahmad (22024). Hadits semakna dengan ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih beliau (1162)]

    Ibnu Abbas r.a. berkata : Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari ‘Asyura  memerintahkan kaum muslimin berpuasa, mereka (para shahabat) menyampaikan, “Ya Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani”. Maka Rasulullah SAW pun bersabda:

 “Jika tahun depan insya Allah (kita bertemu kembali dengan bulan Muharram), kita akan berpuasa juga pada hari kesembilan (tanggal sembilan).“Akan tetapi belum tiba Muharram tahun depan hingga Rasulullah SAW wafat di tahun tersebut [HR. Muslim (1134)]

      Ibnu Abbas r.a. berkata: “Berpuasalah pada tanggal 9 dan 10 Muharram, berbedalah dengan orang Yahudi” [Diriwayatkan dengan sanad yang shahih oleh Baihaqi di As Sunan Al Kubro (8665)] 

     Imam Ibnu Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’aad menyimpulkan: Ada tiga tingkatan berpuasa ‘Asyura, yaitu: (1) Puasa tiga hari, yaitu puasa tanggal 10 ditambah sehari sebelum dan sesudahnya (9,10,11). (2) Puasa tanggal 9 dan 10. Inilah yang disebutkan dalam banyak hadits. (3) puasa tanggal 10 saja . Kesimpulan Ibnul Qayyim di atas didasari dengan sebuah hadits dari Ibnu Abbas r.a. Rasulullah SAW. bersabda :“Puasalah pada hari Asyura, dan berbedalah dengan Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ [HR. Imam Ahmad (2047), Ibnu Khuzaimah(2095) dan Baihaqi (8667)]

     Namun hadits ini sanadnya lemah, Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan, “Hadits ini sanadnya lemah karena salah seorang perawinya, Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila,  jelek hafalannya. Tetapi dalam pandangan yang lain, hadist yang lemah boleh dilaksanakan sebagai fadlo’ilul a’mal, untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan umatnya. Berbeda dengan hadist yang menjelaskan tentang syari’at. Hadist yang lemah tidak boleh dijadikan sebagai landasan atau dasar.

     Walau demikian puasa 3 hari (9,10,dan 11 Muharram) dikuatkan oleh para ulama dengan dua alasan: (1)  Sebagai kehati-hatian, yaitu kemung-kinan penetapan awal bulannya tidak tepat, maka puasa tanggal 11 akan dapat memastikan bahwa seseorang mendapatkan puasa Tasu’a (tanggal 9) dan Asyura (tanggal 10). (2) Dimasukkan dalam puasa tiga hari pertengahan bulan (Ayyamul bidh).

     Adapun puasa tanggal 9 dan 10, pensyari-atannya dinyatakan dalam hadis  yang shahih, dimana Rasulullah  SAW pada akhir hidup beliau sudah merencanakan untuk puasa pada tanggal 9, hanya saja beliau wafat sebelum melaksana-kannya. Beliau juga memerintahkan para shahabat untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 agar berbeda dengan ibadah orang-orang Yahudi.

     Sedangkan puasa pada tanggal 10 saja, sebagian ulama memakruhkannya, meskipun sebagian ulama yang lain memandang tidak mengapa jika hanya berpuasa ‘Asyura (tanggal 10) saja. Secara umum, hadits-hadis yang terkait dengan puasa Muharram menunjukkan anjuran Rasulullah SAW untuk melakukan puasa, sekalipun hukumnya tidak wajib tetapi sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), dan tentunya kita sepatutnya berusaha untuk menghidupkan sunnah yang telah banyak dilalaikan oleh kaum muslimin.

 

Amalan Pada Bulan Muharram Selain Puasa

     Sangat dianjurkan di bulan Muharrom di hari asyura yaitu memperbanyak sedekah, memberi makan fakir miskin,  menambah nilai nafakah kepada keluarga, menyantuni anak anak yatim serta memperbanyak ibadah ibadah lainnya seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, bershalawat, serta menghidupkan malam asyuro dengan amal ibadah.

 

Beberapa Peristiwa Besar di Hari Asyura

     Banyak peristiwa besar yang terjadi di hari asyura sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW bahwa Allah melebihkan hari asyura atas hari hari lainnya karena pada hari itu Allah SWT menciptakan langit, gunung, laut, kalam, lauh, nabi Adam dan memasukkannya ke surga, nabi Ibrahim dilahirkan dan diselamatkan dari api raja Namrud, ditenggelamkannya raja Fir’aun, dihilangkannya balak nabi Ayub, diterima taubatnya nabi Adam, diampuninnya kesalahan nabi Dawud, dilahirkannya nabi Isa, bahkan konon hari kiamat terjadi pada hari asyura.

 

Oleh: Abdullah Mundir, S.Ag

 

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT
...

Drs. MUHARI, M.Pd.I

KATA PENGANTAR   Assalamu’alaikum Wr.Wb. Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami panjatkan puja dan…

Selengkapnya